Ekonom Ramal Inflasi 2020 Hanya

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meramalkan inflasi di 2020 cuman 2 %. Angka itu lebih rendah dibandingkan 2019 yang sejumlah 2,72 %. 

“Jika tempo hari kami kalkulasi seputar 2 % YoY lebih rendah dari tahun kemarin,” kata Ekonom sekalian Direktur Eksekutif indef Tauhid Ahmad, ke Liputan6.com, Selasa (1/12/2020).

Prediksi inflasi tahun 2020 lebih rendah sebab imbas wabah corona covid-19 yang mengakibatkan daya membeli turun. Sesaat suplai makin ketat automatis keinginan atau peningkatan harga itu tidak begitu tinggi.

Seterusnya Tauhid memprediksi inflasi tahun 2021 Pemerintahan dapat capai sasaran 3 plus minus 1 %. Namun tidak presisi, sebab peningkatan inflasi seputar 1 atau 0,1 % saja akan punya pengaruh mengagumkan ke warga.

“Tahun ini saya prediksi inflasi semakin tinggi dibanding perkembangan ekonomi yang tentu saja itu jadi beban untuk seluruh orang. Dan tahun depannya saya anggap masih berlainan positif sedikit tetapi tidak terlalu besar,” ucapnya.

Karena 2021 masih juga dalam proses perbaikan perekonomian, tetapi tidak seutuhnya sembuh. Menurut dia bergantung bagaimana Pemerintahan tangani covid-19, bila covid-19 usai dan ada perbaikan perekonomian, daya membeli, dan keinginan barang dan layanan bertambah karena itu automatis peningkatan harga secara perlahan bertambah.

“Sebab kita menyaksikan pada tahun depan masihlah ada pemulihan tetapi belum juga capacity, berarti perkembangan daya membeli masih setengah,” kata Tauhid.

Di mana perkembangan ekonomi 2021 diprediksi capai 3 %, tetapi lebih rendah dibanding perkiraan Pemerintahan sejumlah 4,5 %, kata Tauhid.

Pemerintahan sudah memutuskan 7 tipe komoditas yang harga jual pada tingkat customer terbatasi. Ketentuan ini dikeluarkan untuk menahan peningkatan harga yang begitu tinggi hingga memunculkan inflasi.

Updated: January 10, 2021 — 4:38 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *